08 February 2011

PANDAI VS KURANG PANDAI



Dalam hidup ini, telah tercipta bagian-bagian yang saling bertolak belakang. Ada siang, ada malam. Ada terik, ada hujan. Ada si kaya, ada si miskin. Ada si tampan, ada si kurang tampan. Ada si kuat, ada si lemah. Terus dan terus begitu seterusnya. Selalu ada yang baik bertolak belakang dengan yang jelek. Mereka saling membutuhkan dan seyogyanya harus saling menghormati. Tidak mungkin disebut si kaya kalau tidak ada si miskin. Tidak mungkin ada si tampan kalau tidak ada si kurang tampan. Tidak ada si kuat kalau tidak ada si lemah. Terus dan begitu seterusnya. Begitu pula dengan kepandaian, ada yang pandai dan ada yang kurang pandai. Jika disuruh memilih, pastinya semua orang akan memilih pandai daripada kurang pandai. Jadi, apakah pandai dan kurang pandai itu merupakan ketetapan dari Yang Maha Kuasa?, apakah pandai dan kurang pandai itu tidak bias diperjuangkan? Jadi, apakah kalau ada siswa yang kurang pandai itu, dianggap lumrah?, menurut kami, pandai dan kurang pandai seorang siswa harus tetap dihargai. Siswa harus disamaratakan, tidak boleh pilih kasih. Berikan semua secara maksimal kepada semua siswa. Ada beberapa hal yang mempengaruhi pandai dan kurang pandainya seorang siswa. Hal tersebut dapat dijelaskan sebagai berikut:
1. Ketentuan Yang Maha Kuasa
Allah SWT, Tuhan Yang Maha Kuasa telah menggariskan dan mentakdirkan keadaan suatu kaum di dunia ini. Amal kehidupannya telah ditulis di zaman azali, dan tintanya telah kering. Jadi, si A akan kaya, si B akan miskin, si C akan pandai, dan si D akan kurang pandai, itu semua telah diatur. Namun, ketentuan itu merupakan takdir yang masih dapat diperjuangkan. Sehingga jika si B terus berjuang dan berikhtiar, maka insyaallah dia akan menjadi kaya, demikian juga si D, jika dia selalu belajar, dan belajar, maka insyaallah dia bias menjadi pandai.

2. Genetika
Diketahui, factor genetika (keturunan) itu mempengaruhi daripada kepandaian seorang anak. Biasanya, jika orangtuanya pandai, maka anaknya juga pandai, khususnya seorang ibu, yang selalu dekat dan merawat serta mengikuti perkembangan anak setiap hari. Ibu yang pandai akan menularkan kepandaiannya kepada anaknya. Seorang anak akan mendapatkan pengetahuan yang cukup sejak dini. Perkembangan otak dan pemikirannya akan selalu diperhatikan sehingga anak akan menjadi pandai dan terus berkembang.

3. Diri siswa
Diri siswa sebagai pelaku, sangat dominant perannya dalam menentukan apakah dia akan pandai atau kurang pandai. Siswa akan menjadi pandai jika dia terus belajar dengan sungguh-sungguh. Sebaliknya, siswa akan jadi kurang pandai jika dia selalu malas-malasan dan tidak pernah belajar. Disinilah, peran guru harus mampu memotivasi siwa untuk selalu belajar dan mengembangkan keterampilannya. Diri siswa sebagai pribadi individu perlu diyakinkan bahwa mereka bisa dan mampu untuk menjadi yang lebih baik.

4. Lingkungan sekolah
Lingkungan sekolah mempengaruhi kepandaian siswa. Lingkungan sekolah yang kondusif, aman, nyaman, dapat menciptakan suasana yang baik untuk belajar akan sangat membantu proses pembelajaran siswa. Guru juga memiliki peranan yang penting, guru yang baik akan menciptakan proses pembelajaran yang aktif, efektif, kreatif dan menyenangkan. Guru dapat membuat siswa menjadi pandai, membuat siswa yang tidak bisa menjadi bisa. Memang, ada pepatah yang mengatakan : “mutiara, tetaplah mutiara, walaupun terjatuh di kubangan Lumpur hitam, dia tetaplah mutiara”, pepatah tersebut benar, memang anak pandai walaupun sekolahnya biasa saja, bahkan dalam keterbatasan sarana prasarana, dia akan tetap pandai, namun mutiara dalam kubangan Lumpur, cahayanya redup, kurang canti, tidak menarik, dan tidak ada yang melirik dan mengetahui bahwa ada mutiara di dalam Lumpur itu. Berbeda jika mutiara tersebut diletakkan di etalase sebuah ruangan yang bersih dan indah, akan banyak orang yang melihatnya, kagum, suka, dan banyak yang ingin memilikinya.

5. Lingkungan keluarga
Keluarga merupakan tempat hidup siswa, bahkan dari kecil, pendidikan pertamanya dimulai dari keluarga. Jadi, keluarga memberikan arti lebih untuk menanamkan kepandaian dalam diri siswa. Dengan nutrisi dan pembelajaran yang cukup, seorang siswa akan berkembang menjadi anak yang pandai. Keluarga yang baik akan mendukung anaknya untuk belajar dan menciptakan suasana yang kondusif. Seorang anak tidak mungkin dapat belajar dengan baik, jika dirumah orang tuanya selalu bertengkar. Sedang belajar, anak disuruh ini dan itu. Siswa tidak akan dapat berkonsentrasi. Keluarga harus mendukung untuk menciptakan anaknya agar menjadi pandai.

6. Lingkungan masyarakat
Masyarakat adalah tempat belajar kehidupan nyata. Ada satu pepatah: “jika ingin menjadi sholeh, maka berkumpullah dengan orang-orang sholeh”, itulah masyarakat, jika ingin anak menjadi pandai, maka tempatkan dia di lingkungan masyarakat yang pandai. Masyarakat akan sangta mempengaruhi perkembangan anak. Jangan sampai anak salah bergaul.

7. Kondisi Negara
Kondisi keamanan Negara memiliki peran dalam kepandaian anak. Jika Negara tidak aman, kapan anak akan bisa belajar. Jika Negara dijajah, kapan anak dapat memperoleh pendidikan yang layak. Dengan adanya penjajahan, malah akan terjadi pembodohan dan pembohongan. Untuk itu, kondisi Negara dapat dengan praktis mempengaruhi kepandaian seorang siswa. Negara yang aman, tentram, gemah ripah loh jinawi dapat menciptakan generasi-generasi bangsa yang tangguh, pandai, dan siap menyongsong kehidupan di masa yang akan dating.


salam smart;
akhlis munazilin, s.kom

0 comments:

 
Powered by Akhlis Munazilin